Langsung ke konten utama

Cara Pemijahan Ikan Lele dengan Suntikan

Bagaimana cara pemijahan ikan lele dengan suntikan? Salah satu ikan air tawar yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia adalah ikan lele. Ikan ini mempunyai daging yang cukup tebal dan rasanya pun nikmat. Tidak heran permintaan pasar akan ikan lele pun selalu mengalami peningkatan.

Para petani biasanya membudidayakan ikan lele di kolam buatan seperti kolam beton atau kolam terpal. Mereka mendatangkan benih unggul dari balai perikanan setempat. Namun tidak selamanya benih tersebut tersedia. Oleh karena itu, para petani pun harus belajar membuat benih ikan lele sendiri. Bagaimana caranya?

cara-pemijahan-ikan-buatan.jpg

Di bawah ini merupakan faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam memijahkan ikan lele menggunakan suntikan!

Langkah I : Persiapan Awal

Kolam Pemeliharaan

Anda bisa memanfaatkan kolam beton yang berukuran 10 x 2 x 1,5 m sebagai tempat pemeliharaan ikan lele indukan. Kolam ini dilengkapi dengan saluran pemasukan dari pipa paralon ukuran 4 inci. Begitu pula dengan saluran pengeluarannya pun terbuat dari pipa paralon dengan ukuran yang sama.

Bak Pemberokan

Bak pemberokan berfungsi sebagai tempat penampungan sementara ikan lele indukan sebelum dilakukan proses penyuntikan. Sebelumnya seluruh calon ikan indukan diseleksi berdasarkan kualitas dan kematangan gonad terlebih dahulu. Kemudian ikan-ikan terpilih dimasukkan ke dalam bak fiber yang berbentuk bulat. Bak tersebut memiliki diameter 1,5 m serta tinggi 1 m.

Bak dan Hapa Penetasan

Bak yang cocok dipakai untuk media penetasan ialah bak dari fiber yang berukuran 4 x 2 x 0,8 m. Bak ini wajib dilengkapi dengan saluran pemasukan sebesar 1 inci serta saluran pengeluaran sebesar 2 inci pada bagian dalam dan 4 inci pada bagian luar. Setelah itu, masukkan kain hapa dari kain trilin yang berukuran 2 x 1 x 0,2 m ke dalam bak tersebut. Sedangkan untuk menjaga kondisi air yang ideal, bak ini didukung juga dengan 4 titik aerasi dan sumber air bersih yang mempunyai debit hingga 40 ml/detik.

Kolam Pendederan

Kolam pendederan berguna untuk memelihara benih ikan lele yang telah menetas. Kolam ini sebaiknya terbuat dari tanah. Anda bisa melengkapinya dengan saluran pemasukan sebesar 6 inci dan saluran pengeluaran sebesar 8 inci. Ada baiknya kolam pendederan terletak di dalam ruangan sehingga kondisinya tetap stabil.

Langkah II : Pemilihan Indukan

Sebelum dapat digunakan, kolam pemeliharaan ikan lele harus dibersihkan dari lumpur yang mengendap di permukaannya terlebih dahulu. Kemudian kolam tersebut diisi menggunakan air bersih hingga ketinggiannya mencapai 60-80 cm. Setiap kolam pemeliharaan bisa diisi dengan indukan dengan tingkat kepadatan 5 ekor/m2. Antara ikan jantan dan ikan betina wajib ditempatkan di dalam kolam pemeliharaan yang terpisah agar tidak terjadi proses pemijahan secara alami.

Ikan lele yang akan dijadikan sebagai indukan dipelihara selama 1-2,5 tahun sampai bobotnya berkisar antara 0,5-2 kg/ekor. Selama masa pemeliharaan ini, ikan lele diberikan pakan yang mengandung protein sampai 33% untuk mempercepat masa pertumbuhannya. Pakan diberikan pada waktu pagi dan sore hari sebanyak 3-4% dari berat ikan tersebut. Pakan sebaiknya ditebarkan di dekat titik saluran pemasukan supaya mudah dibersihkan.

Ikan lele siap dijadikan sebagai indukan apabila kondisinya sudah mencapit kematangan gonad. Ciri-ciri ikan betina yang siap yaitu berumur sekitar 8-12 bulan, berat antara 0,7-1 kg, dan panjang 25-30 cm. Sedangkan ciri-ciri ikan lele jantan yang telah matang gonad yakni berumur 8-12 bulan, berat 0,5-0,75 kg, dan panjang 30-35 cm.

Langkah III : Pelaksanaan Pemijahan

Proses pemijahan buatan biasanya memakai induk jantan dan betina dengan perbandingan 0,7:2. Metodenya dimulai dengan menyuntikkan hormon perangsang (ovaprim) yang bertujuan untuk mempercepat ovulasi. Penyuntikan dilakukan pada malam hari dengan jarak waktu antara penyuntikan dan ovulasi sekitar 10-12 jam tergantung suhu inkubasi. Penyuntikan dilaksanakan sebanyak 1 kali tepat di bagian punggung ikan lele dengan kemiringan sebesar 45 derajat.

Dalam waktu 10-12 jam setelah proses penyuntikan, ikan lele tersebut harus diperiksa untuk mengecek keberhasilannya. Jika ikan tersebut telah mengalami ovulasi, maka harus disediakan cairan sel sperma dari indukan jantan sesegera mungkin. Caranya adalah Anda harus membedah ikan jantan menggunakan gunting yang steril dari genital ke arah kepala. Setelah itu, ambil kantung sperma pada ikan tersebut dan bersihkan dari darah yang menempel memakai tisu. Untuk mengeluarkan sperma dari kantungnya, guntinglah kantung sperma ini pada bagian sisinya. Lalu peras kantung tersebut hingga seluruh spermanya keluar. Sel-sel sperma ini lantas diencerkan larutan fisiologis (NaCl 0,9%) sebanyak kurang lebih 50 ml untuk 1 kg indukan.

Proses selanjutnya yaitu mengeluarkan sel telur dari indukan ikan betina. Caranya ialah urut bagian perut ikan tersebut secara perlahan dimulai dari arah dada sampai ke arah lubang genital. Gunakan kain untuk memegang kepala ikan agar tidak bergerak secara liar. Sel-sel telur ini ditampung di dalam wadah plastik yang bersih dan kering. Kemudian tuangan sel sperma ke dalam wadah ini. Lalu goyang-goyangkan wadah tersebut sehingga sel sperma dan sel telur bercampur menjadi satu. Berikutnya campuran sel-sel ini dituangkan ke dalam bak penetasan telur.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dinamika Pengiriman Barang dari Jepang ke Indonesia di Tengah Perubahan Musim

  Pengiriman barang dari Jepang ke Indonesia berjalan dalam sistem lintas negara yang dipengaruhi banyak variabel, salah satunya perubahan musim. Perbedaan karakter iklim antara Jepang yang memiliki empat musim dan Indonesia yang beriklim tropis menciptakan kondisi operasional yang tidak selalu seragam sepanjang tahun. Di Jepang, musim dingin membawa tantangan berupa salju, suhu ekstrem, dan angin laut yang kuat. Kondisi ini dapat memengaruhi aktivitas di gudang, proses pengiriman darat menuju pelabuhan, serta kecepatan bongkar muat. Beberapa pelabuhan mengalami pembatasan operasional sementara ketika cuaca memburuk, sehingga jadwal keberangkatan kapal bisa bergeser. Pada sisi lain, jasa pengiriman barang dari Jepang ke Indonesia menghadapi tantangan khas musim hujan. Curah hujan tinggi sering berdampak pada antrean di pelabuhan, keterlambatan proses bongkar kontainer, serta distribusi lanjutan ke area tujuan. Ketika musim hujan di Indonesia bertepatan dengan musim dingin di Jep...

Potensi Besar Ekspor Kopi Indonesia ke Italia

  Italia dikenal sebagai salah satu negara dengan budaya minum kopi paling kuat di dunia. Hampir setiap sudut kota memiliki kedai kopi yang selalu ramai sejak pagi hingga malam hari. Bagi masyarakat Italia, kopi bukan sekadar minuman penyemangat, tetapi bagian penting dari gaya hidup dan kebanggaan budaya. Kondisi ini menjadikan Italia sebagai salah satu pasar potensial bagi ekspor kopi Indonesia ke Italia . Indonesia memiliki keunggulan dalam keragaman jenis kopi. Dari Aceh hingga Papua, setiap daerah menghasilkan cita rasa unik yang disukai oleh penikmat kopi mancanegara. Kopi arabika Gayo, Toraja, Kintamani, dan Flores dikenal memiliki aroma khas dengan keasaman lembut, sementara kopi robusta Lampung dan Temanggung memiliki karakter kuat yang sering digunakan dalam campuran espresso—jenis minuman kopi yang sangat populer di Italia. Permintaan kopi di Italia sangat stabil, bahkan meningkat setiap tahun. Negara tersebut tidak hanya mengonsumsi kopi murni, tetapi juga menjadi pus...

Peluang Senyap di Balik Tingginya Konsumsi Pakaian di Jepang

  Tingginya konsumsi pakaian di Jepang sering kali tidak terlihat mencolok dari luar. Tidak ada ledakan tren yang berisik atau perubahan gaya yang ekstrem. Namun di balik ketenangan itu, terdapat pergerakan pasar yang stabil dan berkelanjutan. Inilah yang menjadikan konsumsi pakaian di Jepang menyimpan peluang yang berjalan secara senyap tetapi konsisten. Masyarakat Jepang memiliki kebiasaan membeli pakaian berdasarkan fungsi dan kebutuhan nyata. Pakaian kerja, pakaian harian, hingga pakaian rumah tangga memiliki peran masing-masing dan jarang saling menggantikan. Pola ini menciptakan permintaan yang berulang tanpa harus menunggu tren baru muncul. Konsumsi berjalan pelan, namun tidak pernah berhenti. Selain itu, budaya menjaga kerapian berpengaruh besar terhadap siklus pembelian. Pakaian yang mulai terlihat aus, berubah bentuk, atau tidak lagi nyaman cenderung diganti, meskipun masih bisa digunakan. Standar visual dan kenyamanan yang tinggi membuat perputaran pakaian terjadi lebi...